Selasa, 29 Mei 2012

Kisah Ibu tentang Rindu


Kota Malang di pagi hari..
Udara dingin menusuk tulang menciptakan kabut tebal penghalang pandang.
Pagi ini waktuku pulang, kembali ke kehidupan dan aktivitasku di Solo.
Pagi ini aku akan tinggalkan Ibu dan para saudara laki-lakiku.
Pagi ini aku akan mulai lagi petualangan rinduku.
Di tangan kanan sudah kugenggam satu tiket bus yang akan membawaku kembali.
Sedangkan tangan kiriku penuh dengan koper berisi pakain yang sudah di benahi ibu.
Jarum jam menunjukan pukul 7 dan aku siap meninggalkan kota ini dan semua kenangan manis kemarin.
Helaan nafas panjang mengiringi khayalku tentang kebahagiaan kecil yang kami cipta kemarin.
Aku pasti akan rindu gelak tawa Ibu, sendau gurau saudara-saudarku.
Bagaimana bisa kau meninggalkan apa yang sudah membuatmu begitu nyaman?
Bagaimana bisa kau melepaskan genggaman Ibu lalu perlahan menggantinya dengan lambaian?
"Nak.." Suara Ibu membuyarkan semua lamunan indahku..
"Nak, kenapa buru-buru banget? Bus berangkat masih jam 9 kan?"
"Iya bu, Aku nunggu di terminal aja. Aku nggak mau lebih lama sama Ibu, nanti aku jadi sulit pisahnya"
Mendengar  jawabanku Ibu cuma tersenyum. Aku heran dan balik bertanya,
"Kenapa Ibu masih bisa tersenyum semanis itu di detik-detik perpisahan kita? Ibu nggak sedih aku pergi?"
Dengan senyum manis dan sekarang ditambah bulir alir mata beliau menjawab
"Aku terus rindu dan percaya itu pasti akan terbayar, seperti sekarang.  Buktinya kemarin kita sudah buat banyak cerita indah untuk lengkapi bahagia kita nak"
Rasanya aku seperti memenangkan lotre berhadiah ratusan juta mendengar pernyataan Ibu.
"Ah, Jadi ini senjata rahasia Ibu mengatasi rindu sama Ayah?"
"Bukan cuma sama Ayah, tapi juga sama anak perempuan Ibu satu-satunya ini"
Jawab beliau sambil memelukku. Ya, pelukkan terakhir yang akan aku simpan kehangatannya untuk bekal-ku pulang.
"Terima Kasih Ibu, tentang kisah rindu dan rahasia mengatasinya. Sekarang aku akan menahan rindu dalam senyuman, dan  membalaskannya dalam pelukan."
Seiring dengan terlepasnya pelukkan Ibu, aku meninggalkan kota ini.
 Kehidupanku sebelumnya sudah menantiku di Solo.
"Selamat tinggal Ibu, Aku akan rindu masa-masa bahagia bersama seperti hari ini dan hari kemarin.
Ibu tunggu aku kembali membawa kebahagiaan lain yang  kujanjikan padamu"


...Aku menanggalkan senyuman saat rindu, tetapi Ibu terus mengenakan senyuman yang sama walau rindu. Aku pun bertanya mengapa, dan sambil tersenyum ibu menjawab : aku terus rindu dan percaya itu pasti akan terbayar, seperti sekarang
Dan itulah alasanku tetap menyimpan rinduku dalam senyuman....



(Andra Sheilamona / Malang , 2012)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar