Minggu, 01 Juli 2012

Aku Memeluk Ayah Melalui Doa : Surat Kedua.

: Ayah

Assalamualaikum Ayah,
Apa kabarmu yah? Semoga engkau baik-baik saja.
Oh ya,di surat yang lalu aku sudah mengutarakan kerinduanku padamu tapi tidak untuk surat ini, bukan berarti aku tidak merindukanmu yah. Aku masih tetap rindu dan mencintaimu ditiap hembus nafasku.

Ayah mungkin tau aku bukan tipe orang yang pandai berbasa-basi.
Ya, memang bukan ketidaksengajaan yang mendasariku menulis surat ini.
Ingat bagaimana Ayah terlahir di bumi ini 49 tahun yang lalu?
Ingat bagaimana hangat dekapan nenek saat pertama kali Ayah menatap dunia?
Ingat bagaimana merdu azan yang kakek bisikkan ke telinga kanan Ayah?
Aku tidak bisa bayangkan betapa bahagia dan berartinya momen itu.

Ayah..
Engkau jangan heran bagaimana aku tau semua itu.
Nenek, ya nenek lah pelaku yang dengan bangga menceritakan bagaimana jagoan kecilnya terlahir. Banyak hal yang belum bisa kita bincangkan. Selain masalah jarak dan waktu, ada gengsi yang masih jadi dinding penghalang. Aku ingin sekali menghancurkan dinding itu, dan barangkali dengan surat ini bisa merobohkannya atau setidaknya sedikit menggoyahkannya.

Yah, hampir setengah abad kau melihat indahnya dunia, tapi itu tidak berarti apa-apa bagiku selama aku belum bisa jadi harapan yang kau harapkan. Jadi, tetaplah hidup hingga setengah abad lagi atau setidaknya hingga kau menimang cucu-cucumu. Janga biarkan cucu-cucumu tumbuh tanpa mengenal hangatnya kasih sayang seorang kakek.

Dan yang terakhir dan teramat penting, tetaplah sayangi Ibu dan lindungi Beliau hingga kejamnya maut memisahkan kalian berdua. Berikan aku disini sedikit doa, dan aku akan berjuang menjadi apa yang akan membahagiakan kalian.

Hingga detik ini masih sangat bangga membanggakanmu,
Selamat ulang tahun Ayah, terbangkanlah doa dan harapanmu dan biarkan Tuhan menjatuhkan pengabulannya pada hidupku. Maaf jika hanya ini yang bisa kuhadiahkan, bagaimana aku bisa memberi engkau kado bila hadiah terbaik dibumi adalah engkau.

Wassalamualaikum.

Anakmu yang sedang berjuang menjadi harapanmu

Andra.


(Andra Sheilamona / Solo, Juli 2012)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar